GWK Cultural Park

Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park merupakan sebuah kawasan wisata taman budaya seluas ± 60 ha yang terletak di Ungasan, Kabupaten Badung, sekitar 10-15 menit berkendara dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan rancangan patung Garuda Wisnu setinggi ±120 meter dan lebar sayap membentang sekitar 64 meter sebagai daya tarik utama, GWK Cultural Park menawarkan salah satu karya seni terbesar dan paling menakjubkan yang pernah dibuat sepanjang sejarah seni rupa Indonesia, dan sebagai representasi salah satu warisan budaya lokal Indonesia.

Yayasan Garuda Wisnu Kencana yang salah satu pendirinya adalah juga penggagas ide besar di balik konsep Garuda Wisnu Kencana, Bapak I Nyoman Nuarta, memprakarsai ide proyek ini pada tahun 1992 dengan visi menjadikannya sebagai landmark Bali yang dikenal dalam dunia pariwisata Indonesia. Gagasan beliau diwujudkan dengan mengolah kawasan eksisting berupa batu kapur dengan pendekatan olah seni lahan (land art) yang menyatu dengan konsep Arsitektur Landscape modern yang senantiasa memperhatikan keselarasan antara manusia, alam dan sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai alternatif infrastruktur pariwisata buatan abad ke-21, GWK Cultural Park saat ini tengah berkembang menjadi taman budaya yang menyuguhkan berbagai acara yang meliputi pameran budaya, acara dan atraksi hiburan serta menjadi forum informasi dan komunikasi untuk budaya lokal setempat, nasional, regional dan bahkan internasional.

Menemukan lokasi yang sempurna untuk sebuah proyek mega struktur bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan waktu dua tahun sejak awal dikembangkannya konsep proyek ini, sebelum akhirnya menemukan tempat yang sesuai. Sebuah area bekas tambang kapur di bukit tandus di sebuah desa bernama Ungasan. Walaupun wilayah ini begitu terpencil dan terisolasi, namun Yayasan GWK melihat potensi sangat baik, sehingga menginspirasi Yayasan untuk merehabilitasinya.

Untuk merancang dan mewujudkan patung raksasa ini, Yayasan GWK menunjuk Nyoman Nuarta, salah satu pematung modern terbaik Indonesia. Setelah peletakan batu pertama pada Juni 1997, taman budaya mulai dipromosikan secara terbuka pada tahun 2000 dengan mengekspos dan memamerkan beberapa bagian dari patung Garuda Wisnu, dibarengi dengan beberapa uji coba untuk sejumlah fasilitas pendukung.

Singkat cerita, sejak tahun 2013 kepemilikan dan pengelolaan GWK Cultural Park beralih ke PT Alam Sutera Realty, salah satu perusahaan properti terkemuka di Indonesia, GWK Cultural Park kini juga menawarkan sejumlah fasilitas ideal untuk berbagai macam acara, baik acara tertutup maupun umum, kecil atau besar, lokal maupun internasional. Infrastruktur pendukung seperti Plaza Wisnu, Street Theatre, Lotus Pond, Amphitheater, ruang Pameran & Galeri Seni, Indraloka Garden, Tirta Agung, beberapa restaurant andalan GWK seperti Jendela Bali dan The Beranda, serta beberapa Butik & Toko Cinderamata – semuanya telah siap melayani pengunjung.